Advertise

KABAR RASIKA

Hardiknas 2026 di Pekalongan: Kekurangan 1.730 Guru, Krisis Tenaga Pendidik Makin Nyata

Hardiknas 2026 di Pekalongan: Kekurangan 1.730 Guru, Krisis Tenaga Pendidik Makin Nyata

Hardiknas 2026 di Pekalongan: Kekurangan 1.730 Guru, Krisis Tenaga Pendidik Makin Nyata

Ketua Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Pekalongan, Mustadjirin (tengah), saat berkunjung ke Sekretariat PWI Kabupaten Pekalongan di Kajen, Kamis (30/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan kekhawatiran atas krisis tenaga pendidik di Kabupaten Pekalongan menjelang tahun ajaran 2025/2026, yang dinilai berpotensi mengganggu kualitas layanan pendidikan jika tidak segera ditangani (dok. Istimewa)

KAJEN – Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan menghadapi tekanan serius di tahun 2026. Kekurangan tenaga pendidik kian nyata, bahkan disebut berada di ambang “bangkrut” jika tidak segera ditangani dengan langkah konkret.

Ketua Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Pekalongan, Mustadjirin, mengungkapkan bahwa secara angka total, jumlah guru terlihat mencukupi. Berdasarkan data Dapodikdasmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tercatat ada 9.164 guru. Namun, kondisi riil di lapangan menunjukkan persoalan mendasar pada distribusi, status, dan kebutuhan aktual.

“Angkanya memang besar, tapi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Ada ketimpangan distribusi dan kekurangan di titik-titik tertentu,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Distribusi Tak Merata, SD dan SMP Paling Tertekan

Dari total tersebut, sebanyak 6.421 guru adalah perempuan dan 2.743 laki-laki. Secara jenjang, mayoritas berada di Sekolah Dasar (3.788 guru) dan SMP (1.649 guru), disusul SMK (1.636), SMA (1.086), SLB (105), serta PAUD.

Namun, kebutuhan terbesar justru berada di jenjang SD dan SMP. Sejumlah wilayah, terutama daerah terpencil, masih mengalami kekurangan guru untuk mata pelajaran tertentu akibat distribusi yang belum merata.

42 Persen Guru Belum Tersertifikasi

Masalah lain muncul dari aspek profesionalitas. Dari total guru, sebanyak 5.274 telah tersertifikasi, sementara 3.890 lainnya belum. Artinya, sekitar 42 persen guru belum memiliki sertifikasi profesional.

Di sisi lain, sebanyak 8.789 guru sudah berkualifikasi minimal S1. Meski demikian, keterbatasan jumlah membuat banyak guru harus mengajar lintas mata pelajaran bahkan merangkap tugas administratif.

Disdik Akui Kekurangan 1.730 Guru

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Kholid, membenarkan bahwa kebutuhan tenaga pendidik belum terpenuhi.

“Per hari ini, jumlah guru yang ada tercatat sebanyak 5.041 orang. Sementara kebutuhan ideal mencapai 6.771 guru. Artinya masih kurang sekitar 1.730 guru,” jelasnya.

Ia merinci, kekurangan terbesar terjadi pada guru kelas SD sekitar 560 orang. Selain itu, kekurangan juga terjadi pada guru PJOK sekitar 220 orang serta guru Bahasa Jawa dalam jumlah signifikan.

Untuk guru mata pelajaran lain, kekurangan juga tercatat pada:

  • Pendidikan Agama Islam: 24 orang
  • Bahasa Indonesia: 17 orang
  • Bahasa Inggris: 3 orang
  • Bimbingan Konseling: 77 orang
  • IPA: 15 orang
  • IPS: 41 orang
  • TIK: 9 orang

Dampak Nyata: Guru “Tidak Linear”

Akibat keterbatasan tersebut, sejumlah sekolah terpaksa mengambil langkah darurat.

“Ada guru yang mengajar tidak sesuai linieritas, misalnya guru agama mengajar TIK atau mata pelajaran lain. Ini tentu berdampak pada kualitas pendidikan,” tegas Kholid.

Ia menambahkan, kondisi ini dipicu oleh banyaknya guru pensiun sejak awal 2000-an yang tidak diimbangi rekrutmen baru, serta terbatasnya formasi ASN dan PPPK.

Sejak Maret 2025, tidak ada lagi penambahan tenaga honorer, memperparah situasi menjelang tahun ajaran baru.

Terbentur Anggaran, BOS Jadi Opsi Sementara

Upaya penambahan tenaga pendidik masih terkendala kemampuan fiskal daerah. Kholid menyebut, belanja pegawai dalam APBD dibatasi maksimal 30 persen.

“Kami sudah mengusulkan penambahan formasi untuk 2026–2027, tapi tetap harus menyesuaikan kemampuan anggaran daerah,” ujarnya.

Sebagai langkah sementara, Dinas Pendidikan tengah mengkaji penggunaan dana BOS untuk mendukung kebutuhan tenaga pengajar, dengan batas maksimal 20 persen dan menunggu regulasi dari kementerian.

Butuh Langkah Cepat dan Terukur

Sejumlah solusi dinilai mendesak dilakukan, mulai dari penambahan formasi ASN/PPPK, redistribusi guru, peningkatan kesejahteraan tenaga honorer, hingga pemetaan kebutuhan berbasis data rombongan belajar.

Tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan tepat, kekurangan tenaga pendidik di Kabupaten Pekalongan berpotensi semakin dalam. Dampaknya tidak hanya pada beban kerja guru, tetapi juga kualitas layanan pendidikan secara keseluruhan. (Gus)

Tag :

BACA JUGA :

REVIT 1
Revitalisasi SMPN 1 Buaran Telan Rp571 Juta, Halaman Sekolah Diuruk Gara-gara Banjir
WhatsApp Image 2026-09-07 at 10.55
Video Guru SD Langkap Bikin Geger, Dindikbud Pekalongan Siapkan Sanksi hingga Pencabutan Jabatan

TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-15 at 16.00
Jalan Bukur - Ponolawen Kesesi Rampung, Sukirman Cek Ketebalan Langsung Pakai Meteran
KAJEN — Pembangunan ruas jalan Bukur–Ponolawen, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, telah rampung. Namun, jalan tersebut belum bisa langsung digunakan karena masih menunggu masa waktu teknis sebelum...
WhatsApp Image 2026-09-15 at 09.44
Pilkades Kabupaten Pekalongan 2026 Masuk Tahap Verifikasi
KAJEN — Tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Kabupaten Pekalongan 2026 mulai memasuki proses verifikasi berkas pendaftaran bakal calon kepala desa. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD)...
WhatsApp Image 2026-09-15 at 09.07
Kejurkab 404 Pekalongan Digelar, Puluhan SMP Adu Kekuatan: Bibit Atlet Muda Mulai Diburu
KAJEN — Pemerintah Kabupaten Pekalongan mulai membidik bibit atlet muda melalui Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) 404 Pekalongan. Ajang olahraga tingkat SMP/MTs/sederajat ini mempertandingkan bola voli dan...
WhatsApp Image 2026-09-11 at 12.14
Skandal CCTV SDN 02 Langkap: Warga Tolak Kepsek Mesum Cuma Pindah Sekolah, PTDH Harga Mati!
KAJEN – Kesabaran warga Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan sudah habis. Skandal dugaan asusila yang melibatkan oknum Kepala Sekolah (Kepsek) dan Guru di SDN 02 Langkap sukses membuat...
KRATON AKREDIT 1
Akreditasi Bukan Sekadar Predikat, RSUD Kraton Pekalongan Didorong Perkuat Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien
PEKALONGAN – RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan kembali menjalani survei akreditasi. Namun, proses ini tidak diarahkan sekadar mengejar predikat, melainkan menjadi momentum rumah sakit untuk membenahi mutu...
Muat Lebih

POPULER

WhatsApp Image 2026-09-07 at 10.55
Video Guru SD Langkap Bikin Geger, Dindikbud Pekalongan Siapkan Sanksi hingga Pencabutan Jabatan
WhatsApp Image 2026-09-15 at 16.00
Jalan Bukur - Ponolawen Kesesi Rampung, Sukirman Cek Ketebalan Langsung Pakai Meteran
cardinal
TOK..!! Vonis 2 Tahun 4 Bulan Untuk Pemalsu Celana Cardinal