Pekalongan = Kesadaran akan pentingnya jaminan kesehatan kerap muncul saat menghadapi situasi mendesak. Hal itu dirasakan langsung oleh Sri Agustin (30), warga Desa Kalimojosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Pada Senin (21/7), Sri mendatangi Kantor BPJS Kesehatan Cabang Pekalongan untuk mengurus kepesertaan anak perempuannya Khanza Rizqianara (1) yang membutuhkan tindakan medis.
Sri menjelaskan bahwa dirinya dan suaminya telah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah. Meski begitu, ia mengaku belum pernah memanfaatkan layanan tersebut sama sekali.
“Saya baru tahu kalau sebenarnya saya dan suami sudah punya BPJS Kesehatan sejak lama. Tapi memang belum pernah saya gunakan, karena saya pikir harus cetak kartunya dulu,” ujarnya dengan nada heran.
Kebutuhan mendesak untuk menggunakan layanan BPJS Kesehatan muncul ketika Khanza harus menjalani operasi kecil. Dari hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Islam (RSI) Pekajangan Muhammadiyah, dokter menyampaikan bahwa Khanza mengalami kista di kulit yang memerlukan tindakan segera. Di tengah kekhawatiran sebagai orang tua, Sri pun mencoba mencari informasi mengenai pemanfaatan BPJS Kesehatan.
“Saya sempat bingung karena tidak pegang kartu. Tapi setelah tanya ke Petugas BPJS Kesehatan, ternyata bisa langsung dicek secara online. Saya lega sekali waktu tahu kalau status kepesertaan saya dan keluarga aktif,” jelasnya.
Sri juga mengungkapkan rasa syukurnya atas pelayanan yang diberikan rumah sakit. Ia merasa dilayani dengan baik, tanpa ada perbedaan perlakuan antara pasien umum dan peserta JKN. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa BPJS Kesehatan adalah program yang sangat membantu masyarakat, terutama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Pelayanannya sangat bagus, saya dilayani seperti pasien umum. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Anak saya langsung ditangani dengan cepat dan ramah. Sebelumnya saya selalu berobat umum karena tidak tahu kalau sekarang BPJS bisa pakai KTP atau aplikasi. Ini sangat membantu sekali,” tuturnya.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Sri. Ia kini menyadari bahwa menjadi peserta BPJS Kesehatan bukan hanya tentang memiliki jaminan finansial saat sakit, tetapi juga memastikan bahwa keluarganya mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak tanpa harus memikirkan biaya besar di awal.
Ia pun tak segan mengajak warga sekitar untuk memanfaatkan hak sebagai peserta JKN. Menurutnya, banyak masyarakat yang sebenarnya sudah terdaftar, namun belum memahami cara penggunaannya. Ia berharap edukasi tentang penggunaan BPJS Kesehatan bisa semakin masif, terutama di daerah-daerah pedesaan.
“Saya juga sering cerita ke tetangga kalau sekarang tidak ribet pakai BPJS. Cukup pakai KTP, atau unduh aplikasi Mobile JKN. Apalagi untuk yang sudah terdaftar PBI, itu sangat meringankan,” tambahnya.
Sri menyebut bahwa sebelumnya dirinya dan keluarga merasa ragu karena khawatir layanan tidak maksimal. Namun pengalaman langsung membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan tetap optimal, tanpa diskriminasi, dan dengan proses administrasi yang semakin sederhana.
“Saya berharap semakin banyak yang tahu dan sadar pentingnya BPJS. Ini bukan hanya soal kartu, tapi soal perlindungan. Karena kita tidak pernah tahu kapan butuhnya,” katanya.
Ia pun menekankan bahwa jaminan kesehatan seharusnya menjadi kebutuhan pokok setiap keluarga. Terlebih di tengah berbagai tantangan ekonomi, keberadaan BPJS Kesehatan sangat membantu dalam menjaga keseimbangan keuangan rumah tangga ketika sakit melanda.
“Kalau saya tahu dari dulu, pasti saya manfaatkan lebih awal. Sekarang saya lebih tenang karena tahu kalau ada BPJS, anak-anak dan keluarga saya bisa lebih terjamin,” tutup Sri sambil tersenyum. (ns)