DORO – Desa Bligorejo, Kecamatan Doro, kembali mencuri perhatian publik lewat Festival Kelengkeng Bligorejo 2025, sebuah helatan berbasis potensi desa yang digelar Rabu (26/11/2025) di kompleks Balai Desa Bligorejo. Dengan tema “Mbangun Deso Mbangun Negoro”, kegiatan yang dikawal dana desa sebesar Rp40 juta ini menyajikan bazar UMKM, panen raya, hingga petik kelengkeng langsung dari kebun.
Rangkaian acara berlangsung meriah dan dipadati warga. Sejumlah pejabat hadir langsung, termasuk Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Ahmad Ridhowi, Kepala Dinas PMD Agus Dwi Nugroho, Plt Asisten I Pemkab Pekalongan Ajid Suryopratondo, Forkopimcam Doro, perangkat desa, hingga pelaku UMKM.
Ridhowi memberikan apresiasi penuh atas inisiatif Desa Bligorejo yang dinilai mampu membaca peluang sekaligus mendukung program ketahanan pangan.
“Kami mendukung penuh. Ini langkah bagus, dan bisa jadi contoh untuk desa-desa lain. Jika terus dikembangkan, bukan tidak mungkin produk kelengkeng Bligorejo bisa menembus pasar nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Bligorejo Titik Erowati menyebut festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan strategi konkret untuk mengangkat potensi pertanian lokal.
“Festival ini kami gelar sebagai sarana promosi kelengkeng Bligorejo dan penguatan ketahanan pangan. Harapannya, peluang pemasaran semakin luas dan ekonomi warga makin berkembang,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Plt Asisten I, Ajid Suryopratondo, yang melihat langkah desa ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah daerah.
“Dengan sekitar 120 pohon kelengkeng yang ada, ini bisa menjadi agenda berkelanjutan. Tentu ini selaras dengan penguatan ketahanan pangan,” kata Ajid.
Ia menambahkan bahwa Pemkab Pekalongan terus memfasilitasi UMKM. “Prinsip pemkab adalah memajukan ekonomi berbasis potensi desa,” imbuhnya.
Festival ini juga dihadiri jajaran PMD dan Dinas Koperasi, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap sinergi pemerintah desa, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dengan gelaran ini, Desa Bligorejo semakin menunjukkan diri sebagai desa yang progresif—mengoptimalkan potensi alam, membuka ruang bagi UMKM, dan memperkuat kemandirian ekonomi warganya.
Festival Kelengkeng 2025 bukan sekadar perayaan panen, tetapi gambaran bagaimana desa mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.