KEDUNGWUNI – Belasan siswa SD Negeri 1 Kedungwuni Timur, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedungwuni Timur pada Selasa, 13 Januari 2026.
Total 15 siswa dilaporkan mengalami keluhan mual dan muntah. Sebanyak 9 siswa dibawa ke Puskesmas Kedungwuni I dan 6 siswa dirujuk ke RSI Pekajangan. Seluruh siswa telah diperbolehkan pulang dan tidak ada yang dirawat inap.
SPPG Kedungwuni Timur diketahui memproduksi 2.219 porsi MBG per hari untuk 17 sekolah, mulai dari TK hingga SMP.
Kepala SPPG Kedungwuni Timur, Idhar Khairul Rahmat, menjelaskan distribusi makanan dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB dan dikonsumsi di sekolah sekitar pukul 09.30 WIB. “Pengiriman jam 09.00, pengiriman awal, lantas dikonsumsi di sekolah itu jam kurang lebih jam 09.30,” kata Idhar.
Ia menyebut menu hari itu berupa mi, telur, dan buah. “Lauknya terpisah, tidak dibarengkan dengan mi. Telur, mi, sama buahnya anggur sama timun untuk saladnya,” ujarnya.
Idhar mengatakan laporan yang diterimanya dari sekolah menyebutkan bahwa mi diduga basi. “Kalau yang dilaporkan yang basi itu yang apa? Minya,” katanya menirukan laporan yang diterima.
Ia mengaku langsung turun ke sekolah untuk mengecek kondisi makanan tersebut. “Saya cek itu teksturnya itu nggak lengket, tapi rasanya itu asem. Kalau makanan basi kan lengket dan berlendir. Tapi ini nggak, masih utuh, masih empuk, masih gumpal, sama kayak mi habis matang, tapi rasanya asem,” jelasnya.
Setelah mendapat laporan siswa muntah, Idhar mengatakan dirinya langsung memerintahkan tim lapangan untuk mendatangi fasilitas kesehatan. “Kita dari SPPG itu kan ada laporan pribadi, saya langsung perintahkan asisten lapangan langsung ke puskesmas, habis itu ke RS,” katanya.
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Pekalongan, Nauf, menegaskan kejadian ini masih berstatus dugaan. “Saya mendapatkan laporan bahwa ada dugaan ya, dugaan kejadian luar biasa. Ini masih dugaan, karena kan harus ada pengecekan dulu, hasilnya bagaimana,” ujar Nauf.
Ia menyebut istilah yang digunakan pihaknya adalah kejadian menonjol, bukan kejadian luar biasa (KLB). “Kalau kejadian luar biasa itu yang menentukan dari pemerintah daerah. Dari kami itu bahasa kami kejadian menonjol,” katanya.
Menurut Nauf, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai instansi. “Yang pertama adalah berkoordinasi dengan pihak APH, baik TNI maupun Polri, kemudian Dinas Kesehatan. Kita juga pantau dari hasil lab dan dari pihak rumah sakit,” ujarnya.
Nauf menyebut semua siswa telah dipulangkan. “Sudah pulang semua. Tidak ada yang dirawat,” katanya.
Terkait kelanjutan operasional SPPG, Nauf mengatakan pihaknya akan melaporkan ke pusat. “Kita laporkan kepada Badan Gizi Nasional pusat, kepada departemen pemantauan dan pengawasan. Nanti dari sana yang memutuskan langkah selanjutnya,” ujarnya.
Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SD Negeri 1 Kedungwuni Timur, Deddy Ardiansyah, mengatakan awalnya menerima laporan dari guru bahwa sejumlah siswa mengalami mual dan muntah. “Ketika saya ditelepon katanya ada anak-anak kejadian mual atau muntah, sekitar lima, enam anak,” katanya.
Setelah itu, siswa dibawa ke fasilitas kesehatan dan muncul laporan susulan. “Setelah itu ada susulan. Total berarti yang susulan itu sembilan. Sembilan plus enam berarti sekitar 15,” jelasnya.
Menu MBG hari itu disebut berupa mi goreng dan telur. “Menu makanannya mie, mie goreng, sama ada telur dan sebagainya,” ujar Deddy.
Ia menegaskan pihak sekolah belum bisa memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. “Kami belum bisa memastikan apakah itu dari menu MBG atau dari hal lainnya. Dari Dinkes juga masih menunggu hasil lab,” katanya.
Puskesmas Kedungwuni I telah menerima sampel makanan yang diduga bermasalah, sementara sampel makanan dan muntahan siswa telah dibawa ke laboratorium di Semarang untuk diuji. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar penentuan penyebab kejadian serta langkah lanjutan terhadap operasional SPPG Kedungwuni Timur. (Gus)