PEKALONGAN – Kesiapan menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal tidak cukup hanya mengandalkan prosedur tertulis. Kecepatan mengambil keputusan, ketepatan tindakan, komunikasi antarprofesi, hingga kekompakan tim harus benar-benar teruji ketika kondisi darurat terjadi.
Hal itu menjadi fokus On the Job Training (OJT) dan Drill Emergency Rumah Sakit PONEK yang digelar RSUP Dr. Kariadi Semarang bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan, Rabu (02/09/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan pelayanan PONEK sekaligus mengukur sejauh mana sistem pelayanan di rumah sakit mampu merespons kondisi kegawatdaruratan maternal dan neonatal secara cepat dan terkoordinasi.
Direktur RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan, Dr. dr. Henny Rosita, Sp.KJ., M.Kes., menegaskan bahwa drill tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai kegiatan simulasi.
“Jangan melihat drill hanya sebagai sebuah simulasi, tetapi jadikan sebagai kesempatan untuk mengukur sejauh mana kesiapan kita ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan yang sesungguhnya,” ujar Henny.
Ia juga mengajak seluruh peserta mengikuti proses tersebut secara serius, aktif, dan terbuka terhadap evaluasi.

Menurut Henny, penguatan respons kegawatdaruratan maternal dan neonatal menjadi penting karena angka kematian ibu dan bayi masih menjadi pekerjaan rumah di Jawa Tengah.
“AKI/AKB ini masih menjadi PR di provinsi Jawa Tengah tentunya kami sangat menyambut baik adanya kegiatan yang membantu merefresh kembali respon time emergency di lini pelayanan PONEK,” katanya.
RSUD Kraton mencatat perkembangan angka kematian ibu dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024 tercatat 5 kasus AKI, kemudian 5 kasus pada 2025, dan hingga 2026 tercatat 0 kasus.
Sementara untuk angka kematian bayi, RSUD Kraton mencatat 18 kematian perinatal pada 2024, turun menjadi 10 kematian perinatal pada 2025, dan 7 kematian perinatal hingga semester pertama 2026.
Data tersebut menjadi salah satu gambaran penting dalam melihat kebutuhan penguatan sistem pelayanan kegawatdaruratan, terutama karena jumlah persalinan yang ditangani RSUD Kraton juga cukup besar.
Pada 2024, terdapat 724 persalinan, terdiri dari 436 persalinan spontan dan 288 persalinan melalui operasi caesar (SC).
Jumlah tersebut meningkat pada 2025 menjadi 1.151 persalinan, dengan 649 persalinan spontan dan 502 persalinan melalui SC.
Sedangkan hingga semester pertama 2026, tercatat 349 persalinan, terdiri dari 184 persalinan spontan dan 165 persalinan melalui SC.
Dari kasus maternal, Henny menyebut kondisi yang masih mendominasi adalah PEB (preeklamsia berat) serta perdarahan, baik antepartum (APH) maupun postpartum (HPP).
Sementara pada kasus perinatal, kasus yang mendominasi adalah asfiksia dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).
OJT dan drill emergency PONEK dirancang untuk melihat respons pelayanan ketika menghadapi skenario kegawatdaruratan secara langsung di lingkungan rumah sakit.
Aspek yang diuji tidak hanya menyangkut kemampuan klinis tenaga kesehatan. Alur triase, stabilisasi, tindakan medis, komunikasi antarprofesi, kesiapan peralatan dan sarana prasarana, hingga koordinasi antarunit serta proses rujukan apabila diperlukan turut menjadi bagian yang harus diperhatikan.
Melalui simulasi tersebut, potensi kendala di lapangan dapat ditemukan lebih awal untuk kemudian menjadi bahan evaluasi.
Dengan pendekatan tersebut, hasil drill diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pelayanan secara berkelanjutan.
Kegiatan di RSUD Kraton ini melibatkan sejumlah unsur pelayanan kesehatan, yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang, Tim PONEK RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan, Tim PONEK RSUD Bendan Kota Pekalongan, serta Tim PONEK RSUD Dr. M. Ashari Pemalang.
Dari RSUP Dr. Kariadi Semarang, kegiatan menghadirkan dr. Dina Paramita, Sp.An., KAO; dr. Arsita Eka Rini, M.Si. Med., SpA(K); dr. Putri Sekar Wiyati, SpOG, Subsp. Obginsos; serta dr. Dian Widyaningrum, SpPK sebagai bagian dari Tim Mutu.
Sementara fasilitator dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terdiri atas Kabid Pelayanan Kesehatan dr. Irma Makiah; Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Nirmala Safitri, M.Kes. (Epid); serta Bidang Yankes Pokja Pengembangan Yankes Rujukan Ambarwati, SKM, Muhammad Natsir, S.Kp.Ners., M.Kep., dan Muh. Dhofar, S.Kep.
Bagi RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan, penguatan PONEK melalui pelatihan dan drill menjadi bagian dari upaya menjaga kesiapan layanan ketika berhadapan dengan kondisi yang tidak bisa diprediksi.
Sebab dalam kegawatdaruratan maternal dan neonatal, setiap menit dapat menentukan. Yang diuji bukan hanya kemampuan individu, tetapi juga seberapa cepat seluruh sistem rumah sakit bergerak sebagai satu tim. (Adv/Gus)