KESESI – Demokrasi tidak cukup diajarkan lewat teori. Cara memilih calon, menilai visi dan program, hingga menolak politik uang justru perlu dikenalkan sejak seseorang pertama kali belajar menentukan pilihan.
Pesan itu dibawa Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Pekalongan saat menggelar program KPU Mengajar di SMA Negeri 1 Kesesi, Selasa (11/8/2026).
Sebanyak 857 siswa mengikuti kegiatan tersebut. Momentum pemilihan Ketua OSIS menjadi pintu masuk bagi KPU untuk mengenalkan praktik demokrasi sekaligus membangun kesadaran sebagai pemilih, terutama bagi pelajar yang nantinya akan masuk kategori pemilih pemula.
Komisioner KPU Kabupaten Pekalongan Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Dika Redana, menyampaikan materi mengenai demokrasi kepada para siswa.
Menurut Dika, pendidikan demokrasi tidak berhenti pada pengenalan pemilu. Lingkungan sekolah juga dapat menjadi tempat untuk membangun kebiasaan memilih secara cerdas dan bertanggung jawab.
“KPU Mengajar hadir bukan sekadar mengenalkan pemilu, tetapi menanamkan budaya demokrasi sejak di lingkungan sekolah,” kata Dika.
Ia menjelaskan, pemilihan Ketua OSIS dapat menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami bagaimana menentukan pilihan berdasarkan informasi yang dimiliki, bukan sekadar mengikuti pilihan orang lain.
Siswa didorong mengenali calon, mencermati visi dan program yang ditawarkan, kemudian menentukan pilihan secara sadar. Mereka juga diingatkan untuk menolak politik uang.
“Dari memilih ketua OSIS, siswa belajar menjadi pemilih cerdas, kritis, bertanggung jawab dan menghargai perbedaan,” ujarnya.

Bagi KPU Kabupaten Pekalongan, pembelajaran semacam ini penting karena demokrasi tidak hanya berlangsung saat pemilu. Sikap kritis, tanggung jawab dalam menentukan pilihan, serta kemampuan menghargai perbedaan merupakan bagian dari budaya demokrasi yang perlu dibangun sejak dini.
Dalam KPU Mengajar tersebut, para siswa juga mendapat pemahaman mengenai demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Pemilihan Ketua OSIS SMA Negeri Kesesi. Dengan demikian, materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung dikaitkan dengan proses pemilihan yang akan mereka hadapi di lingkungan sekolah.
KPU berharap bekal tersebut dapat membentuk pemilih pemula yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab ketika nantinya telah memenuhi syarat sebagai pemilih.
Sebab, sebelum menentukan pilihan di bilik suara dalam pemilu, para pelajar terlebih dahulu belajar satu hal mendasar: memilih bukan sekadar menentukan siapa yang menang, tetapi memahami siapa yang dipilih dan mengapa pilihan itu dijatuhkan. (gus)