KEDUNGWUNI – Persoalan air sumur asin menghantui warga Desa Pakisputih, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Puluhan sumur warga diduga terdampak rembesan dari pabrik es batu. Air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kini berubah rasa menjadi asin dan sebagian dinyatakan tidak layak konsumsi berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang disampaikan salah seorang warga.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, sebut saja Bunga, mengungkapkan perubahan kualitas air sumurnya terjadi secara bertahap sejak sekitar Juli hingga Agustus 2026. Awalnya air terasa tidak enak saat digunakan untuk membuat minuman, kemudian berubah menjadi asin.
“Perubahannya bertahap, tidak langsung asin. Dari tidak enak sampai asin itu sekitar sebulanan,” ungkap Bunga saat diwawancarai, Minggu (8/11/2026).
Menurutnya, hampir satu RT mengalami persoalan serupa. Ia memperkirakan sekitar puluhan rumah terdampak dan jumlahnya masih berpotensi bertambah karena perubahan rasa air terjadi secara bertahap.
Bunga mengaku telah memeriksakan sampel air sumurnya melalui laboratorium Dinas Kesehatan. Hasil pemeriksaan yang diterimanya menyatakan air tersebut sudah tidak layak dikonsumsi. Ia menyebut terdapat perubahan pada parameter TDS dan pH.
“Intinya sudah tidak layak konsumsi. Kandungannya tinggi, TDS dan pH-nya juga sudah berubah,” katanya.
Menariknya, air sumur milik Bunga masih terlihat bening dan tidak berbau. Namun, rasanya telah berubah menjadi asin.
Kecurigaan terhadap aktivitas pabrik es muncul setelah warga lain yang mengalami kondisi serupa mendatangi pabrik untuk meminta pengecekan. Bunga mengaku mendapat informasi bahwa terdapat kebocoran atau rembesan di lokasi pabrik.
Meski demikian, ia menegaskan belum mengetahui secara pasti sumber maupun mekanisme terjadinya rembesan tersebut.
Persoalan ini juga belum sepenuhnya selesai. Bunga menyebut selama sekitar sepekan terakhir pihak pabrik telah memberikan bantuan air bersih dan melakukan pengurasan sumur warga. Namun, setelah dikuras, air sumurnya tetap terasa asin.
Warga berharap persoalan tersebut benar-benar ditangani hingga kualitas air sumur kembali seperti semula.
“Harapannya ditindaklanjuti. Karena sumur itu vital buat masyarakat. Kita ingin dikembalikan seperti semula dan tidak mendapat dampak yang merugikan dari pabrik,” tegasnya.
Penanggung Jawab Pabrik Akui Ada Rembesan
Saat dikonfirmasi di lokasi pabrik, Minggu (8/11/2026), penanggung jawab pabrik es batu, Eko, membenarkan pihaknya telah menerima laporan warga terkait perubahan kualitas air sumur.
Ia menyebut pihak pabrik telah memberikan bantuan air bersih dan melakukan pengurasan terhadap sumur warga yang terdampak.
“Yang sudah kena, kita tanggung jawab. Kita bantu air bersih. Sumur warga juga kita kuras,” kata Eko.
Eko membantah adanya kesengajaan membuang limbah ke lingkungan. Namun, ia mengakui adanya rembesan dari aktivitas pabrik yang sebelumnya tidak diketahui pihaknya.
“Kita enggak mempunyai niat buang limbah. Kita enggak ada niat. Itu rembesan. Kita enggak tahu, itu rembesan,” ujarnya.
Eko juga menyebut persoalan tersebut mulai dirasakan pihaknya hampir dua pekan terakhir setelah menerima laporan atau teguran dari warga.
Meski mengakui adanya rembesan, Eko menegaskan pihaknya tidak bermaksud mencemari lingkungan dan menyatakan telah berupaya menangani keluhan warga.
Disperkim LH Belum Merespons Konfirmasi
Untuk mendapatkan keterangan dari instansi yang berwenang menangani persoalan lingkungan, konfirmasi juga telah dilakukan kepada Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Disperkim LH) Kabupaten Pekalongan, Drs. Muhammad Abdul Ghazali, M.T., melalui sambungan telepon pada Minggu (8/11/2026).
Namun, hingga berita ini disusun, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Warga tentu tidak cukup hanya mendapat bantuan air bersih sementara. Yang lebih penting adalah kepastian penyebab air sumur berubah asin, penanganan sumber persoalan, serta pemulihan kualitas air agar masyarakat kembali dapat menggunakan sumurnya dengan aman. (GUS)